Pengertian dan Dalil Iman kepada Kitab Allah swt

 
Gambar: Mushaf Al-Qur’an
 

a. Asas Pokok Keimanan kepada Kitab Allah swt

 

Tahukah kamu apa yang mendasari beriman kepada kitab Allah swt? Dasar yang melandasi iman kepada kitab Allah swt, yaitu adanya keimanan kita yang benar kepada Allah swt.

 

Iman kepada Allah swt merupakan asas dan pokok akan adanya keimanan kepada kitab-Nya, yakni keyakinan yang pasti bahwa Allah swt adalah Rabb dan pemilik segala sesuatu, Dialah satu-satunya pencipta, pengatur segala sesuatu, dan Dialah satu-satunya yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua sesembahan selain Dia adalah sesembahan yang batil, dan beribadah kepada selain-Nya adalah kebatilan.

 

Allah swt berfirman;

 

Adanya alam semesta ini merupakan bukti bahwa Allah swt adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan yang menciptakan alam semesta dan yang mengaturnya. Tidak ada Tuhan selain Allah swt yang wajib disembah.

Umat Islam meyakini adanya Allah swt dan mengetahui sifat-sifat Nya, agar menjadi mukmin sejati. Dengan modal iman inilah kita akan menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

 

Perhatikan firman Allah swt berikut;

Kitab-kitab yang dimaksudkan pada ayat di atas adalah kitab yang berisi peraturan, ketentuan, perintah, dan larangan yang dijadikan pedoman bagi umat manusia. Kitab-kitab Allah swt, tersebut diturunkan pada masa yang zamannya berbeda-beda. Semua kitab tersebut berisi ajaran pokok yang sama, yaitu ajaran meng-esa-kan Allah swt (tauhid). Yang berbeda hanyalah dalam hal syariat yang disesuaikan dengan zaman dan keadaan umat pada waktu itu.

Marilah kita renungkan, apa jadinya jika kita menaiki kendaraan di jalan tidak memiliki tujuan yang jelas. Kita hanya naik dan tidak tahu akan ke mana. Tentu kita hanya akan menghambur-hamburkan bahan bakar atau tenaga dan mengganggu perjalanan pengguna jalan yang lain. Bahkan lama-kelamaan kita bisa tersesat. Demikian juga halnya dengan kehidupan manusia di dunia ini. Jika hidup ini tidak memiliki arah yang jelas dan benar, hanya akan menghabiskan usia tanpa bermanfaat dan kemudian tersesat.

Gambar: Memilih jalan hidup yang lurus akan membawa kebahagian

Jadi, hidup ini harus memiliki arah atau tujuan yang jelas dan benar. Lalu siapa yang mengetahui arah dan tujuan hidup yang benar itu? Tentu yang mengetahui secara pasti adalah Allah swt, Tuhan yang menciptakan manusia. Maha Suci Allah swt yang tidak menghendaki manusia hidup dalam kesesatan. Oleh karena itu, Allah swt memberikan arah yang jelas dengan cahaya petunjuk-Nya. Allah swt memberikan petunjuk mengenai tata cara bagaimana menjalani hidup di dunia serta tata cara bagaimana mendekatkan diri kepada-Nya. Sehingga kita di dunia menjadi orang yang bahagia dan selamat, serta kelak di akhirat kita mendapatkan kebahagian hakiki dan mendapatka ridlo-Nya dalam keadaan menjadi hamba yang dikasihi-Nya. Karena itu, kitab suci yang Allah swt turunkan kepada rasul-Nya adalah sebagai rahmat untuk para makhluk-Nya, dan petunjuk bagi mereka, supaya mereka mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

 

Allah swt menghendaki sesama manusia untuk hidup saling membantu, saling membahagiakan, serta menanam berbagai amal kebaikan selama hidup di dunia. Sebaliknya, Allah swt. tidak menghendaki manusia saling menyengsarakan dan menyakiti satu sama lain. Manusia yang dapat menjalani hidupnya dengan benar dan terarah akan merasakan kebahagiaan dalam kehidupannya. Sebaliknya, mereka yang menjalani hidup tanpa menggunakan aturan dan seenaknya sendiri tentu akan lebih sering mengalami masalah, kesulitan, dan kegelisahan. Orang yang tidak pernah mengindahkan aturan juga dapat membuat orang lain di sekelilingnya merasa terganggu bahkan gelisah.

Jadi, petunjuk Allah swt yang termaktub di dalam kitab-kitab yang diturunkan-Nya merupakan panduan untuk kebahagiaan manusia di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, kitab itu benar-benar berisi cara untuk membimbing kita untuk meraih kebahagiaan. Sungguh rugi manusia yang tidak mengimani kitab-kitab Allah swt, tidak pernah membaca, memahami, memegang teguh serta melaksanakan isi kitab suci itu.

Pengertian iman kepada kitab Allah swt

 

Menurut bahasa, iman adalah percaya atau membenarkan. Menurut istilah, iman adalah kepercayaan yang diyakini kebenarannya dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Jadi, iman kepada kitab-kitab Allah swt artinya percaya dan meyakini bahwa Allah swt mempunyai kitab yang telah diturunkan kepada para rasul-Nya agar menjadi pedoman hidup bagi umatnya. Hukum beriman kepada kitab-kitab Allah swt adalah fardhu’ain (wajib bagi setiap orang yang beragama Islam). Muslim (Orang Islam) yang tidak mempercayai adanya kitab-kitab Allah swt maka dinamakan murtad (keluar dari ajaran Islam).

 

Beriman kepada kitab Allah swt merupakan rukun iman yang ketiga. Mengimani kitab Allah swt berarti kita harus mempercayai dan mengamalkan segala sesuatu yang terkandung di dalam kitab tersebut.

Iman terhadap kitab Allah swt merupakan salah satu landasan agama kita. Allah swt berfirman yang artinya:

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman dengan Allah swt, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.

(QS. Al-Baqarah: 177).

 

Perhatikanlah hadist nabi berikut ini:

Gambar: Hadits nabi mengenai Iman

Cakupan Iman dengan Kitab Suci

 

Masih dalam kitab yang sama, beliau juga mengatakan: “Iman dengan kitab suci mencakup 4 perkara:

 

  • Iman bahwasanya kitab-kitab tersebut turun dari Allah swt.

  • Iman dengan nama-nama yang kita ketahui dari kitab-kitab tersebut, seperti al-Qur`an yang Allah swt turunkan kepada Muhammad saw, Taurat kepada Musa a.s, Injil kepada Isa a.s, dan lain sebagainya.

  • Pembenaran terhadap berita-berita yang shahih, seperti berita-berita yang ada dalam Al-Qur’an dan kitab-kitab suci sebelumnya selama kitab-kitab tersebut belum dirubah atau diselewengkan.

  • Pengamalan terhadap apa -apa yang tidak di-nasakh dari kitab-kitab tersebut, menerimanya dan berserah diri dengannya, baik yang diketahui hikmahnya, maupun yang tidak diketahui.”

b. Dalil iman kepada kitab Allah swt

 

Perhatikan dan simaklah firman Allah swt, berikut ini:

Menurut Imam Qurtubi, firman Allah swt di atas,يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا آمِنُوْا ,ayat ini diturunkan dan ditujukan untuk semua orang yang beriman, makna ayat tersebut adalah wahai orang-orang yang berbuat benar, tunjukkan kebenaran yang kalian lakukan dan teruslah kalian berada pada garis kebenaran itu, وَالْكِتَابِ الَّذِى نَزَّلَ عَلَى رَسُوْلِهِ “Dan kepada Kitab yang Allah swt turunkan kepada rasul-Nya,” maksudnya adalah al-Qur’an, وَالْكِتَابِ الَّذِى أُنْزِلَ مِنْ قَبْلُ “Serta Kitab yang Allah swt turunkan sebelumnya,” artinya kepada setiap kitab yang diturunkan kepada para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw.

Ibnu Katsir, Abu Umar, dan Ibnu ‘Amir membaca dengan Qira’ah “nuzzila”, dan “unzila” dengan harakat dhammah, sedangkan yang lain membacanya dengan Qira’ah “nazzala” dan “anzala” dengan harakat fathah. Pendapat lain mengatakan, bahwa ayat ini diturunkan kepada orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw dari kalangan para Nabi terdahulu. Pendapat lain mengatakan bahwa khitab ayat ini ditujukan kepada orang-orang munafik, makna ayat menurut kelompok ini adalah wahai orang-orang yang beriman secara zhahir, murnikanlah keimananmu kepada Allah swt. Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang musyrik, makna ayat menurut golongan ini adalah wahai orang-orang yang beriman kepada Latta, Uzza dan Thaghut (syeitan), berimanlah kalian kepada Allah swt, dan percayalah kalian kepada Allah swt juga kepada kitan-kitab-Nya. (Syaikh Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi 5, hal.983-984.)

 

Sedangkan Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya beliau memberikan penafsiran  bahwa maksud konteks  ayat di atas bukanlah perintah untuk beriman, melainkan perintah untuk lebih menyempurnakan iman dan memperkokohnya. Dari surah an-Nisa ayat 136 di atas Rukun Iman disebutkan hanyalah lima perkara yaitu:

  • Percaya kepada Allah swt

  • Percaya kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul

  • Percaya kepada Malaikat-Malaikat

  • Percaya kepada Kitab-Kitab

  • Percaya kepada Hari Akhirat

Menurut Sayyid Quthb, seruan iman pada ayat tersebut merupakan seruan iman yang kedua, dengan menyebutkan ciri atau sifat mereka yang membedakan mereka dari kejahilan yang ada di sekitarnya. Ini merupakan penjelasan terhadap unsur-unsur iman yang wajib diimani oleh orang-orang yang beriman. Yaitu, beriman kepada Allah swt dan rasul-Nya. Iman yang menghubungkan antara hati seorang mukmin dengan Tuhan yang telah menciptakan mereka, dan telah mengutus kepada mereka orang yang menunjukkan mereka pada keimanan itu, yaitu Rasulullah. Di sampinng itu juga beriman kepada risalah Rasul dan membenarkan segala yang dibawa untuk mereka dari Tuhan yang telah mengutusnya.dan kemudian disusul dengan keharusan beriman kepada hari kiamat. (Sayyid Quthb, “Tafsir fi Zhilalil Quran”, diterjemahkan oleh As’ad Yasin, Jakarta, Gema Insani:  2008, cet.3,  jil.III, h.101)

 

Menurur sayyid Quthb adapun beriman kepada Allah swt, malaikat, kitab-kitab, rasul dan hari kiamat bagi orang beriman sudah merupakan fitrah di lubuk hatinya yang dalam.

 

M. Quraish Shihab menjelaskan dalam bukunya Wawasan Al Quran , Al-Quran mengisayaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap insan.

 

Demikian dipahami dari firman-Nya dalam surah al-Rum: 30.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah swt; (tetaplah atas) fitrah Allah swt yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah swt. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Karena sudah menjadi fitrah manusia untuk beriman kepada Allah swt, maka sewajarnyalah untuk senantiasa meningkatkan dan memperkokoh keimanan itu. Umat terdahulu meyakini sebagian yang disampaikan oleh para rasul dan kufur dengan sebagian yang lain.

Asbabun Nuzul

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdu ‘I-Lah bin Salam, Asad dan Usaid yang keduanya putra Ka’ab, Tsa’labah bin Qais, Salam bin saudara perempuan Abdu ‘I-Lah bin Salam, dan Yamin bin Yamin. Mereka datang kepada Rasulullah saw. seraya berkata, “Kami beriman kepadamu dan kitabmu, kepada Musa dan Taurat, dan kepada ‘Uzair; tetapi kami ingkar kepada selain kitab-kitab dan rasul-rasul itu”. Maka, Rasulullah saw. bersabda, “Bahkan, hendaknya kalian beriman kepada Allah swt dan Rasul-Nya, Muhammad, beserta kitab-Nya, al-Qur’an, dan seluruh kitab yang diturunkan sebelum itu.” Mereka berkata, “Kami tidak akan melakukannya”. Maka turunlah ayat ini, kemudian mereka semua beriman.

(Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir al-Maraghi 5, hal. 301.)

 

Perhatikan dan simaklah firman Allah swt, berikut ini;

Diturunkannya kitab-kitab Allah swt ini merupakan anugerah bagi manusia. Mengapa demikian? Manusia dikaruniai akal oleh Allah swt agar dapat mengkaji al-Quran untuk memahami ajaran-ajaran Allah swt sebagai rambu-rambu yang menunjukkan jalan kebenaran, serta menciptakan tatanan kehidupan dunia yang baik dan benar. Jadi, dengan adanya kitab-kitab Allah swt ini, manusia dapat membedakan mana yang benar (haq) dan mana yang salah (bathil), mana yang bermanfaat dan mana yang mengandung mudarat.