Pendahuluan

Kuis

Referensi

Tim

 

Uraian

 

A. Teori Asam Basa Arrhenius

Saat kita masuk ke dapur atau kamar mandi, kita dapat menemukan berbagai macam senyawa asam dan basa. Saat kita membuka lemari pendingin, kita dapat menemukan buah-buahan dan minuman ringan (soft drink) yang banyak mengandung asam karbonat. Cuka yang biasa kita tambahkan jika makan bakso merupakan asam, sedangkan soda kue yang digunakan untuk mengembangkan kue merupakan basa. Pada bak tempat cucian, kita menemukan amonia dan bahan pencuci lainnya, yang merupakan basa. Di dalam kotak obat, kita menemukan obat aspirin, suatu senyawa asam, dan berbagai jenis antasida pereda sakit maag yang merupakan senyawa basa. Ternyata dalam kehidupan kita sehari-hari dipenuhi oleh asam dan basa.

 

 

Lemari es dan kotak obat
Sumber:www.sekilasharga.com,
www.tienrumahterapi.blogspot.com


Beberapa sifat asam yang dapat diamati di sekeliling kita, antara lain :

  1. Berasa masam (ingat!! di laboratorium, kita mengujinya, bukan mencicipinya)
  2. Terasa sangat pedih bila terkena kulit (korosif)
  3. Bereaksi dengan logam-logam tertentu (Ingat kembali sifat logam dan non logam!) menghasilkan gas hidrogen
  4. Bereaksi dengan batu kapur (CaCO3) dan soda kue (NaHCO3) menghasilkan gas karbon dioksida.
  5. Bereaksi dengan kertas lakmus dan mengubah lakmus biru menjadi merah


Beberapa sifat basa yang dapat diamati di sekeliling kita, antara lain :

  1. Berasa pahit (ingat!! di laboratorium, kita mengujinya, bukan mencicipinya)
  2. Terasa licin di kulit
  3. Bereaksi dengan minyak dan lemak
  4. Bereaksi dengan kertas lakmus dan mengubah lakmus merah menjadi biru
  5. Bereaksi dengan asam menghasilkan garam dan air


Sejumlah asam dan basa yang dapat kita temukan di dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat pada tabel di bawah ini :


Tabel 1. Asam dan Basa dalam kehidupan sehari-hari

Perhatikan tabel 1 di atas, jika diperhatikan rumus kimianya kita menemukan fakta bahwa semua asam mengandung ion hidrogen (ion H+), sedangkan kebanyakan basa mengandung ion OH–. Tiga teori dasar yang dapat digunakan untuk menjelaskan konsep asam-basa secara mikroskopis adalah sebagai berikut

 

B. Teori Asam Basa Arrhenius

Asam secara umum rasanya masam dan bersifat korosif yang dapat merusak logam, marmer, dan berbagai bahan lain. Sedangkan Basa secara umum rasanya pahit dan licin. 

 

1. Asam menurut Arrhenius
Pada tahun 1884 Svante Arrhenius, ahli kimia Swedia, menghubungkan sifat asam dengan adanya ion hidronium (H3O+) bila suatu zat dilarutkan dalam air. Ion H3O+ dapat disederhanakan menjadi ion H+ (sebagai kependekan ion hidronium). Apabila disederhanakan menjadi H+ maka molekul air yang membawa H+ dihilangkan. Contoh asam Arrhenius adalah HCl (asam lambung) yang dilarutkan dalam air.

 

 

Asam Lambung
Sumber:www.asamlambungnaik.com


Pada reaksi di atas HCl terionisasi sempurna menjadi ion-ion dan ditandai dengan panah satu arah. Asam yang terionisasi sempurna disebut asam kuat. Semua asam kuat merupakan elektrolit kuat (larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan sangat baik).  Sedangkan asam yang tidak terionisasi sempurna menjadi ion-ion dalam larutanya yang ditandai dengan panah dua arah disebut asam lemah. Contohnya asam asetat /asam cuka (CH3COOH) yang dilarutkan dalam air.

 

 

ANIMASI TEORI ASAM ARRHENIUS

 

Karena hanya menghasilkan satu ion hidrogen per molekul maka HCl dan CH3COOH merupakan asam monoprotik:

Asam sulfat (H2SO4­) disebut asam diprotik karena menghasilkan dua ion hidrogen per molekul pada dua reaksi terpisah:
Asam yang mampu menghasilkan tiga ion hidrogen disebut asam triprotik, contohnya adalah H3PO4 (asam fosfat). Ionisasi asam fosfat adalah:


 

 

 

Secara umum semua asam yang menghasilkan lebih dari satu ion hidrogen disebut poliprotik.

Tabel 2. Reaksi Ionisasi berbagai larutan asam dalam air

Basa menurut Arrhenius

Kafein pada kopi merupakan basa dan semua basa memiliki rasa pahit. Basa umumnya bersifat kaustik (licin seperti sabun) dan merupakan senyawa yang bila dilarutkan di dalam air akan menghasilkan ion OH-. Sebagai contoh adalah NaOH (natrium hidroksida) dan Ba(OH)2 (barium hidroksida) yang dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida dan barium hidroksida merupakan basa kuat karena terionisasi sempurna di dalam air:

 

 

Sabun sebagai contoh basa
Sumber:www.wisegeek.com

Selain basa kuat ada pula basa lemah, contohnya adalah NH3 yang dilarutkan di dalam air. Amonia akan terionisasi sebagian menjadi ion NH4+ dan ion OH-. Reaksi tersebut merupakan kesetimbangan ditandai dengan panah dua arah.


 

NH3 dilarutkan dalam air

Karena hanya menghasilkan satu ion hidroksida (OH-) per molekul maka NaOH dan NH3 merupakan basa monoprotik:


Asam sulfat (Mg(OH)2) disebut asam diprotik karena menghasilkan dua ion hidroksida per molekul:


Basa yang mampu menghasilkan tiga ion hidroksida disebut basa triprotik, contohnya adalah Al(OH)3.


Secara umum semua basa yang menghasilkan lebih dari satu ion hidroksida disebut basa poliprotik.

Arrhenius juga mengelompokkan reaksi antara asam dan basa sebagai reaksi netralisasi, sebab jika kita mencampurkan suatu larutan asam dengan suatu larutan basa, kita akan mendapatkan larutan netral yang terdiri atas air dan garam.

 


Air terbentuk dari penggabungan ion hidrogen dan ion hidroksida) Persamaan ion bersih sama untuk semua reaksi asam-basa Arrhenius, yaitu H+(aq) + OH–(aq) ? H2O(l).

Teori ini tetap digunakan, walaupun jarang. Sama seperti teori-teori lain, teori ini memiliki beberapa keterbatasan. Sebagai contoh, reaksi fasa gas antara gas amonia dan gas hidrogen klorida dalam wadah tertutup, berlangsung melalui persamaan reaksi berikut :

Dua gas yang tidak berwarna bercampur, dan kemudian menghasilkan padatan putih amonium klorida. Ion di dalam persamaan reaksi ini menunjukkan peristiwa yang sesungguhnya terjadi; HCl memberikan ion H+-nya kepada amonia. Pada dasarnya ini merupakan hal yang sama seperti yang terjadi pada reaksi HCl dengan NaOH. Sebaliknya, reaksi yang melibatkan amonia tidak dapat dikelompokkan ke dalam reaksi asam-basa, sebab reaksi tersebut tidak terjadi di dalam air dan tidak melibatkan ion hidroksida. Oleh karena itu, untuk menerangkan proses yang terjadi pada amonia, suatu teori asam-basa baru dikembangkan, yaitu teori asam-basa Bronsted-Lowry.